|
|
Kolom
|
Rabu, 16 Januari 2013 |
|
Kemenangan PDIP secara simple majority dan ketidak mampuan kubu Megawati membangun komunikasi dengan masyarakat politik telah menyebabkan kebuntuan politik menjelang SU MPR 1999. Sebagai pemenang Pemilu, ia tidak dapat diabaikan begitu saja dalam konfigurasi kekuasaan.
Tapi di sisi lain, ketidak cakapannya menyakinkan kekuatan politik lain menyulitkan Megawati menduduki kursi presiden. Imbasnya, suasana kebuntuan itu merembes ke akar rumput. “Situasi ini sangat berbahaya bagi masa depan Indonesia,” ujar Amin Rais. Diperlukan alternatif dari kebuntuan politik seperti ini.
Dua kandidat presiden; Megawati dan Habibie sama-sama mempunyai resiko jika terpilih menjadi presiden. “Demi masa depan republik ini, kami mengusung kaukus politik alternatif, yaitu ‘Poros Tengah’ dengan mencalonkan KH. Abdurahman Wahid menjadi presiden mendatang,” begitu Amin Rais saat melaunching ‘Poros Tengah’ dan mengusung nama Gus Dur. Publik tercengang atas manuver Amin Rais dengan Poros Tengahnya. Selama ini, publik memahami Gus Dur sangat dekat dengan Megawati, dan Amin dekat dengan Habibie. Manuver Amin ini awalnya tidak dianggap serius oleh banyak kalangan karena faktor historis yang kemungkinan akan menjadi penghambatnya.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
M. Nuh: Perubahan Kurikulum Penting dan Mendesak |
PDF
|
|
Jumat, 14 Desember 2012 |
Jakarta, NUBatik Onine
Kurikulum pendidikan di Indonesia akan drastis diubah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun kurikulum baru untuk tahun 2013 mendatang. Rencana ini rupanya sudah digagas sejak 2010.
Alasan Kementerian: kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Karena zaman berubah, maka kurikulum harus lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan lagi hafalan semata.
Perubahan ini diputuskan dengan merujuk hasil survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Salah satunya adalah survei "Trends in International Math and Science" oleh Global Institute pada tahun 2007.
Menurut survei ini, hanya 5 persen siswa Indonesia yang mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sebagai perbandingan, siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen. Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal berkategori rendah yang hanya memerlukan hafalan. Sementara itu, siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Pahlawan dan Nasionalisme Santri |
PDF
|
|
Rabu, 07 November 2012 |
Jakarta, NUBatik Online
Ada sebuah pendapat, bahwa Hari Pahlawan tidak akan pernah ada, jika tidak ada resolusi jihad. Pendapat ini boleh jadi subyektif dan sektarian, mengingat resolusi jihad merupakan maklumat yang pernah difatwakan oleh ormas Nahdlatul Ulama' (NU). Namun jika kita telusuri secara historis, ada korelasi yang signifikan anatara resolusi jihad 22/24 Oktober 1945 dengan perang dasyat 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Resolusi jihad merupakan "instruksi" yang disampaikan oleh pengurus Besar NU kepada seluruh warga nahdliyin. Khususnya yang berada di Surabaya, tempat pendudukan Inggris (NICA) pasca kemerdekaan. Dalam resolusi tersebut, diserukan bagi setiap orang yang berada dalam radius 94 km dari pendudukan pasukan militer Inggris, maka fardhu ain hukumnya untuk berjihad, perang mengusir penjajah. Dan bagi yang berada di luar radius tersebut, maka hukumnya hanyalah fardhu kifayah. Namun status bisa meningkat menjadi fardhu ain jika keadaan dan situasi menjadi darurat.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Memanfaatkan Buah Sukun Pengganti Beras |
PDF
|
|
Jumat, 02 November 2012 |
|
Oleh: KH. Drs. Masduki, M.Si. Firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 45-46 : Artinya : “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya [620] agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. [620] Maksudnya ialah: memperbanyak zikir dan doa. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Kamis, 28 Juli 2011 |
|
Oleh: A. Mustofa Bisri
Di Surabaya, dalam perjalanan pulang dari Jember, saya mendapat telpon dari anak saya bahwa Mbah Dullah, KH Abdullah Salam Kajen, telah pulang ke rahmatuLlah. Innaa liLlahi wainnaa ilaiHi raaji’uun! Dikabarkan juga, berdasarkan wasiat almarhum walmaghfurlah, jenazah beliau akan langsung dikebumikan sore hari itu juga.
SubhanaLlah! Selalu saja setiap kali ada tokoh langka yang dicintai banyak orang meninggal, saya merasa seperti anak-anak yang terpukul, lalu hati kecil bicara yang tidak-tidak. Seperti kemarin itu ketika mendengar Mbah Dullah wafat, secara spontan hati kecil saya ‘gerundel’: “Mengapa bukan koruptor dan tokoh-tokoh jahat yang sibuk pamer gagah tanpa mempedulikan kepentingan orang banyak itu yang dicabut nyawanya? Mengapa justru orang baik yang dicintai masyarakat seperti mbah Dullah yang dipanggil?” Astaghfirullah!
Sepanjang perjalanan itu pun saya terus diam dengan pikiran mengembara. Kenangan demi kenangan tentang pribadi mulia mbah Dullah, kembali melela bagai gambar hidup.
|
|
Selengkapnya...
|
|
| | << Awal < Prev 1 2 3 4 Next > Akhir >>
| | Hasil 1 - 9 dari 32 | |
|
|
|
|
|
| |
|
Mutiara Hikmah |
|
Di tengah kerumunan murid-muridnya, seorang sufi terisak menangis. Ia pedih melihat kenyataan hidup yang mulai semrawut. Antara halal dan haram mulai berbaur tidak jelas. ''Dosa-dosa sedang merata di mana-mana, ibarat air hujan yang turun deras dari langit, lalu tumpah di muka bumi. Tak seorang pun bisa mengelak dari kungkungan dosa-dosa itu, tak terkecuali orang saleh sekali pun,'' demikian paparnya. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
|