banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

Batik Faroo Pekalongan
SadeanBatik.Com
SMNU

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini98
mod_vvisit_counterKemaren358
mod_vvisit_counterMinggu ini1415
mod_vvisit_counterBulan ini9081
mod_vvisit_counterSemua120409
 
 
Pemimpin yang Dicintai
Selasa, 20 Januari 2009
Image

Di persinggahan suatu perjalanan Nabi SAW meminta sahabat-sahabatnya menyiapkan makanan dengan menyembelih seekor kambing. Seketika itu di beberapa orang dari sahabat itu berkata, ''Wahai Rasulullah, saya yang akan menyembelih kambing.'' Yang lain mengatakan, ''Saya yang akan mengulitinya. Aku yang memasaknya,'' sahut sahabat lain tidak mau ketinggalan berbakti kepada beliau.

Nabi tersenyum mendengar perkataan dan kesediaan para sahabat itu. Lalu beliau berkata, ''Aku yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.'' Mendengar perkataan beliau, hampir serentak para sahabat berkata, ''Wahai Rasulullah, sudahlah engkau tidak usah bekerja.''

Image

Nabi langsung menimpali, ''Aku tahu kalian akan mencukupiku, tetapi aku membenci bila aku dilebihkan di antara kalian. Sesungguhnya Allah membenci hamba-Nya yang menginginkan diperlakukan istimewa di antara sahabat-sahabatnya.''

Demikianlah seorang pemimpin seharusnya. Setiap pemimpin perlu, bahkan harus meneladani kepemimpinan Nabi SAW. Meski sebagai pemimpin, bahkan sebaik-baiknya manusia, beliau tidak ingin dirinya terkesan khusus dari sesamanya. Beliau selalu berusaha populis, merakyat.

Juga, sebagai pemimpin beliau tidak hanya sebagai pemegang komando, ''tukang perintah'', tetapi beliau turut serta bekerja, berbaur bersama rakyatnya. Di antaranya terbukti beliau selalu hadir berperang bersama kaum Muslimin. Pun beliau tidak malu ikut serta mengangkat batu, menggali parit, ketika terjadi pada perang Khandak.

Selain itu, beliau menjauhi sikap otoriter. Beliau sering berdialog atau bermusyawarah dengan pengikutnya, menerima masukan atau ide dari bawahannya, seperti ide siasat pada perang Khandak.

Oleh karena itu, menurut Abbas Mahmud Aqqad dalam bukunya Abqariah Muhammad SAW, di antara keistimewaan kepemimpinan Nabi SAW adalah beliau sangat menyayangi dan mengayomi orang lemah atau fakir miskin, dan populis. Beliau tidak segan atau tidak malu-malu mengayomi, bergaul dengan orang-orang kalangan kelas bawah, wong cilik.

Dalam suatu riwayat disebutkan beliau dengan senang hati makan bersama pembantunya, duduk-duduk, berbicara dengan budak-budak. Bahkan beliau menyatakan bahwa siapa yang tidak menyayangi orang-orang lemah, itu berarti di luar golongannya. Seperti disebutkan dalam sabdanya, ''Barang siapa tidak menyayangi yang lemah di antara kita dan tidak mengetahui hak orang-orang terhormat di antara kita, maka bukan termasuk golongan kami.''

Sikap-sikap kepemimpinan Nabi SAW itulah, di antaranya, yang menjadikan beliau sangat dicintai dan dihormati rakyatnya. Karena itu pemimpin yang ingin dicintai dan dihormati rakyatnya hendaknya memperhatikan wong cilik, populis, berbaur, dan tidak otoriter, dalam mengambil keputusan, dan sudah seharusnyalah mengikuti konsep kepemimpinan Rasulullah SAW.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah

Di tengah kerumunan murid-muridnya, seorang sufi terisak menangis. Ia pedih melihat kenyataan hidup yang mulai semrawut. Antara halal dan haram mulai berbaur tidak jelas. ''Dosa-dosa sedang merata di mana-mana, ibarat air hujan yang turun deras dari langit, lalu tumpah di muka bumi. Tak seorang pun bisa mengelak dari kungkungan dosa-dosa itu, tak terkecuali orang saleh sekali pun,'' demikian paparnya.

Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia