banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

SadeanBatik.Com
SMNU
Batik Faroo Pekalongan

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini86
mod_vvisit_counterKemaren358
mod_vvisit_counterMinggu ini1403
mod_vvisit_counterBulan ini9069
mod_vvisit_counterSemua120397
 
 
Habib Luthfi: Saatnya NU Satu Komando
Rabu, 24 September 2008

Pekalongan, NU Batik
Ulama kharismatik asal Pekalongan, Jawa Tengah, Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Yahya menyarankan agar NU dapat kembali satu komando seperti pada zaman Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. NU harus dipimpin oleh syuriyah yakni kiai yang tegas dan bijaksana, sementara tanfidziyah hanya sebagai pelaksana program saja.

Habib Lutfi yang juga pimpinan jamaah tarekat se-Indonesia atau Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah mengusulkan dalam muktamar NU yang akan datang muktamirin atau peserta muktamar hanya memilih rais syuriyah saja, sedangkan ketua umum tanfidzaiyah cukup ditunjuk oleh rais syuriyah terpilih.
Dalam perbincangan dengan kontributor NU Batik Abdul Muis di kediamannya di Pekalongan, Ahad (7/8) lalu, Habib Lutfi menyatakan perlunya satu otoritas kepemimpinan yang tegas dalam NU. Jika di kemudian hari tanfidziyah kebablasan dalam menjalankan tugas, rais syuriyah atau rais Aam memiliki kewenangan mutlak untuk mengingatkan ketua umum dan jika perlu diganti sesuai dengan kewenangannya.

Pola kepemimpinan satu komando menurut Habib Lutfi telah diterapkan di organisasi yang dipimpinya, Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah. Pada Muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah ke-10 tahun 2005 di Pekalongan hanya memilih Rais Aam, sedangkan Mudir Aam (ketua tanfidziyahnya) cukup ditunjuk oleh Rais Aam terpilih. Hal ini menurut Habib Lutfi untuk menghindari dualisme kepemimpinan di tubuh Thariqah.

Dikatakan, kepemimpinan satu komando juga untuk mengantisipasi tarik-menarik antara peran syuriyah dan tanfidziyah karena masing masing merasa mendapat mandat oleh peserta muktamar. Akibatnya jelas, Ketua Tanfdziyah yang seharusnya berperan sebagai pelaksana kebijakan syuriyah akan tetapi pada prakteknya justru tanfidziyah berfungsi merencanakan dan melaksanakan program-program di NU secara keseluruhan.

Habib Luthfi berharap pada muktamar NU yang akan datang hal ini sudah bisa dilaksanakan. PBNU diminta segera membentuk tim khusus untuk melakukan kajian yang konprehensip, sehingga peran NU sebagai penjaga akidah dan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dapat terus dilaksanan dan tidak lagi dibawa ke sana kemari karena faktor kepentingan oleh sekelompok pengurus. (nam)
 
< Sebelumnya
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah

Rasulullah Saw bersabda, "Bersungguh-sungguhlah kalian dalam menyeru yang makruf, bersungguh-sungguh pulalah kalian dalam mencegah yang munkar. Jika tidak, maka Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, dan doa orang-orang baik di antara kalian (tetapi diam terhadap kemunkaran) tidak akan dikabulkan oleh Allah," (HR Imam Bazzar).

Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia