banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

SadeanBatik.Com
SMNU
Batik Faroo Pekalongan

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini97
mod_vvisit_counterKemaren358
mod_vvisit_counterMinggu ini1414
mod_vvisit_counterBulan ini9080
mod_vvisit_counterSemua120408
 
 
Gus Sholah jadi alternatif Pengganti Pak Hasyim
Selasa, 28 Juli 2009

Surabaya, NUBatik Online
Mencuatnya nama Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Mohammad Nuh akan maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar pada Januari 2010 mendatang tampaknya tak akan mendapat dukungan dari PWNU Jatim. Pasalnya, dari beberapa kriteria yang diinginkan PWNU Jatim, tampaknya nama M. Nuh tidak masuk dalam kriteria kandidat Ketua Umum PBNU mendatang.

Apalagi dalam kriteria kandidat calon Ketua Umum PBNU mendatang, Rais Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar menginginkan calon pemimpin NU mendatang harus berasal dari kader NU yang berkeringat. Maksudnya, sejak kecil sosok ketua umum harus mendapat pendidikan ke-NU-an dan memiliki nasab NU yang baik. Selain itu harus mampu mensinergikan antara NU Indonesia dengan NU cabang istimewa (luar negeri-red).

Usulan kami mendatang sosok seorang Ketua Umum itu harus berasal dari kader yang berkeringat, kata Kiai Miftah, Senin (27/7).

Keinginan Kiai Miftah mengusung kriteria tersebut ternyata bukan tanpa alasan. Menurutnya, jika ketua umum mendatang bukan dari kader yang berkeringat di NU atau berasal dari kader yang hanya mendapat pendidikan ke-NU-an setengah-setengah dikhawatirkan kondisi NU akan menjadi buruk.

Pernyataan tersebut, lanjut Kiai Miftah, bukan berarti meragukan keberadaan keberadaan tokoh-tokoh NU yang kini mulai mencuat melalui birokrasi atau kedudukannya. Namun, hal ini dilakukan karena amanat NU sangat besar.

Sehingga diperlukan kader yang benar-benar militan seperti halnya KH Hasyim Muzadi maupun KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Bukan berarti saya meragukan ke-NU-an Pak Nuh, katanya.

Ketika disinggung siapa sosok yang lebih dipilih jika nantinya Kiai Hasyim tidak mencalonkan kembali dalam Muktamar mendatang. Apakah Gus Sholah ataukah M. Nuh? Kiai Miftah mengaku belum bisa memutuskan siapa kandidat yang bisa menggantikan Kiai Hasyim Muzadi. Namun, jika memang Kiai Hasyim tidak maju, Kiai Miftah lebih memilih berkonsultasi dengan Kiai Hasyim untuk meminta arahannya.

Sementara itu, KH Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, ketika dikonfirmasi terkait munculnya wacana bakal dicalonkan oleh beberapa pengurus cabang NU dalam Muktamar mendatang, Gus Sholah, panggilan akrab adik kandung KH Abdurrahman Wahid, lebih memilih tidak banyak berkomentar, karena hingga kini dirinya belum mengetahui kebenaran dukungan tersebut.

Saya tidak bisa berkomentar. Karena saya tidak tahu apakah cabang mencalonkan saya. Ya kita tunggu cabang saja, ungkap Gus Sholah.

Meski demikian, Gus Sholah mengaku siap kapanpun jika memang ada cabang yang mencalonkan dirinya maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU mendatang. Seluruh kader NU kalau dibutuhkan tidak boleh menolak.

Namun, yang menjadi catatan buat Gus Sholah, seorang ketua umum ke depan harus murni memperjuangkan NU, bukan mengejar sesuatu di NU. Di samping itu, sosok Ketua Umum ke depan harus mampu meluruskan aturan yang ada di NU sehingga tidak terjadi multitafsir.

Terkait kriteria dan sosok yang akan diusulkan NU Jawa Timur ke forum Muktamar ke-32 NU di Makassar, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar, menjelaskan, pihaknya tetap akan membahas persoalan tersebut kepada semua jajaran pengurus NU. Sehingga, ketika hadir dalam Muktamar mendatang bisa satu misi. Untuk urusan nama calon kandidat kami belum membahas terlalu jauh. Karena, ini perlu rapat koordinasi lagi, tukasnya. (dumas/bim)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah

Birrul Walidain atau berbuat baik kepada orang tua termasuk ajaran Islam yang penting. Berbuat baik kepada mereka merupakan amal yang utama dalam pandangan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW pernah ditanya seorang sahabat tentang amal yang paling dicintai Allah. Beliau bersabda, ''Shalat tepat pada waktunya!'' Sahabat itu bertanya lagi, ''Apalagi amal yang dicintai Allah, ya Rasulullah?'' ''Berbuat baik kepada orang tua,'' jawab beliau. Sahabat itu bertanya kembali, ''Kemudian amal apa lagi, ya Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Berjihad pada jalan Allah.'' (HR Bukhari)

Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia