|

Pengantar redaksi :
Khusnul Khotimah mahasiswi semester 8 STAIN Pekalongan adalah dari sekian banyak mahasiswa di kampusnya yang berkesempatan belajar di Amerika selama dua bulan. Apa dan bagimana pengalaman selama di negeri Paman Sam, berikut ini di rubrik kader kita, Khusnul menuturkan pengalamannya. Selamat membaca. Impian dapat belajar di luar negeri adalah menjadi dambaan setiap orang, apalagi belajar tanpa harus mengeluarkan duit sepeserpun. Itulah yang dialami mahasiswi semester 8 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) kelahiran 31 Maret tahun 1987. Dia adalah Khusnul Khotimah, putri Pekalongan asli selama dua bulan sejak awal Januari 2009 yang lalu berkesempatan merasakan dinginnya udara New York State untuk memperdalam Bahasa Inggrisnya di negeri Paman Sam.
Perempuan aktifis penyuka bahasa asing, khususnya inggris sejak sekolah di SMA Negeri 1 Pekalongan bermula bersama teman teman yang lain se kampus STAIN Pekalongan mengikuti tes seleksi belajar ke luar negeri. Akhirnya setelah dinyatakan lulus bersama 5 orang teman seangkatannya, berkesempatan belajar ke luar negeri meski hanya 8 minggu dengan biaya ditanggung dari perguruan tinggi dimana dirinya belajar. Semula agak kesulitan untuk dapat beradaptasi, terutama dengan lingkungan kampus. Apalagi peraturan yang cukup ketat dengan bahasa percakapan resmi maupun tidak resmi antar mahasiswa dan antar dosen harus menggunakan Bahasa Inggris. Jika ketahuan melanggar, dipastikan akan mendapat denda satu kata satu dolar, membuat dirinya bersama 10 temannya dari Indonesia yang belajar di kampus yang sama harus ektra hati-hati. Wal hasil dengan peraturan yang cukup ketat, ditambah waktu kuliah hanya 8 minggu membuat dirinya dan kawan-kawan harus segera beradaptasi dan semakin lancar berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Putri keempat dari delapan bersaudara pasangan dari Wakil Katib Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan Mohammad Ali Sholeh Basyaeban dan Shofratun saat ini aktif di Pimpinan Komisariat IPPNU STAIN Pekalongan sebagai sekretaris tidak banyak kesulitan dalam belajar bahasa Inggris, meski saat ini di STAIN Pekalongan mengambil studi juruan Pendidikan Agama Islam. Di samping itu, dirinya juga menyibukkan diri di Koperasi Mahasiswa (Kopma) sebagai ketua tak membuat dirinya lupa akan tugasnya sebagai mahasiswa. Bahkan saat ini sedang proses penggarapan skripsi dan tinggal selangkah lagi menyandang gelar sarjana. Walau hanya 2 bulan berada di kampus Syracuse University New York State, dengan cuaca minus 20 derajat celcius hampir setiap hari hujan salju membuat dirinya cukup kerasan, apalagi satu kelas hanya diisi 12 mahasiswa dengan 3 dosen. Bahkan jika kelak berkesempatan belajar lagi di luar negeri, dirinya akan memanfaatkan peluang tersebut. Selama belajar di negeri Paman Sam, dirinya mendapat fasilitas tiket Jakarta Amerika pulang pergi, uang transport, living cost, biaya tutor, biaya belajar dan uang saku 350 USD. Dari fasilitas ini, dirinya cukup enjoy untuk memanfaatkan waktu hanya untuk belajar dan belajar. Kini setelah kembali ke Indonesia, Khusnul Khotimah akan memanfaatkan waktunya untuk menyelesaikan skripsinya dan meraih cita citanya yang ia impikan selama ini, yakni menjadi manusia yang berguna bagi sesamanya. Di samping itu dirinya ingin kembali aktif di organisasi otonom NU Kota Pekalongan serta mengamalkan ilmunya yang telah diperolehnya selama ini kepada siapa saja yang membutuhkan. (iz) |