banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

SMNU
Batik Faroo Pekalongan
SadeanBatik.Com

Pengunjung Online

Saat ini ada 15 tamu online

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini176
mod_vvisit_counterKemaren343
mod_vvisit_counterMinggu ini1093
mod_vvisit_counterBulan ini2780
mod_vvisit_counterSemua133368
 
 
Meneladani Rasulullah Dalam Memberi Maaf
Minggu, 08 Maret 2009

Oleh: H. Salahuddin Wahid

Menjelang dan setelah Pak Harto wafat, ungkapan memohon maaf amat banyak dilontarkan tokoh masyarakat.Tetapi ada pihak yang menolak memberi maaf, yaitu mereka yang menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di era pemerintahan Pak Harto, antara lain korban tahun 1965 / 1966,warga Kedung Ombo, dan aktivis mahasiswa penentang Orde Baru.

Penolakan itu adalah sesuatu yang bisa kita pahami, walaupun agama Islam (dan juga agama lain) memerintahkan kita untuk memberi maaf. Dalam sebuah pidato Mbak Tutut, sebagai wakil keluarga,menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas segala kesalahan dan kekhilafan Pak Harto, tentu termasuk kepada mereka yang pernah merasakan penderitaan akibat kebijakan pemerintahan Pak Harto yang tidak bijaksana. Permintaan maaf itu bersifat menyeluruh dan umum, tanpa merinci apa yang dimohonkan maaf, karena memang tidak memungkinkan.

*** Walaupun tidak ideal,secara psikologis masyarakat, permohonan maaf itu sudah merupakan sesuatu yang positif. Tetapi secara keagamaan, kita tidak mampu dan tidak punya kewenangan menilai, itu adalah hak Allah SWT sepenuhnya. Karena itu, ada baiknya kita membicarakan keteladanan dan uswah hasanah dari Rasulullah SAW, panutan terbaik umat Islam dalam semua masalah, baik masalah keduniaan maupun keagamaan.

Suatu saat beliau menderita sakit yang amat parah dan meminta Abu Bakar mengimami salat, yang bersangkutan menyatakan belum mampu menjadi imam. Terpaksa Rasulullah, dengan dipapah, tetap menjadi imam salat. Tampaknya beliau mendapat firasat bahwa tidak lama lagi beliau akan wafat. Karena itu beliau minta dibimbing untuk mencoba duduk di dekat mimbar.

Beliau bersabda: ”Sahabat- sahabatku, selama ini aku telah bermasyarakat bersama kalian dan memimpin kalian, tentu ada kesalahan yang kulakukan, mungkin menyakiti kalian. Tampaknya sudah dekat waktunya akan berpisah dengan kalian. Karena itu, maafkanlah aku, kalau ada yang pernah kusakiti, balaslah aku sekarang, sebelum aku menerima pembalasan di akhirat.

”Para sahabat meneteskan air mata karena terharu sambil menundukkan wajah mereka. Karena tidak ada jawaban, beliau mengulanginya.Tidak juga ada jawaban, semua membisu menahan tangis. Beliau mengulanginya lagi, Suasana semakin haru dan mencekam, sehingga tidak ada yang menyadari saat ada seorang sahabat bernama Ukasah mendekati Rasulullah.

Ukasah berkata,”Rasulullah, aku pernah engkau sakiti.” Seorang sahabat berkata sambil berdiri,”Langkahi dulu mayatku, sebelum engkau menyakiti Rasulullah”. Rasulullah meminta para sahabat duduk kembali. Beliau bertanya: ”Kapan aku pernah menyakitimu?” Jawab Ukasah: ”Saat Perang Badar! untaku mendekati untamu, aku turun untuk menghormatimu, saat itulah ujung cambukmu mengenai punggungku”.

Lalu Rasulullah meminta Bilal mengambil cambuk yang dimaksud, yang diberikan kepada Ukasah. ”Cambuk ini dulu mengenai kulit punggungku karena saat itu aku tidak memakai baju,” ujar Ukasah. Rasulullah lalu membuka baju beliau dan memunggungi Ukasah sehingga punggung beliau yang putih bersih berada di hadapan Ukasah, membuat tanda kerasulan terlihat jelas. Sambil memperhatikan tanda kerasulan itu, Ukasah melemparkan cambuk yang dipegangnya.

Lalu Ukasah memeluk Rasulullah dan mencium tanda kerasulan itu dengan menangis. ”Sudah lama aku menantikan saat ini, wahai Rasulullah. Aku ingin mencium tanda kerasulanmu. Aku ingin menyatukan kulitku dengan kulitmu”. Rasulullah kemudian berkata, ”Ukasah, apabila Allah mengizinkan, kamu akan masuk surga bersamaku”.

*** Kita perlu mengemukakan juga uswah hasanah lain dari Rasulullah saat beliau menjalani saat-saat terakhir kehidupan di dunia. Rasulullah teringat bahwa beliau masih menyimpan uang. Maka dimintanya Fatimah, putri tercinta, untuk mengambil uang yang jumlahnya tidak seberapa dan memintanya untuk membagikan uang itu kepada orang lain yang memerlukan.

Padahal, beliau adalah pemimpin yang tidak punya apa apa karena memang tidak mau mempunyai harta walaupun banyak yang menawari. Demikian pula putra-putri Rasulullah. Beliau bersabda, betapa malunya beliau kalau harus menghadap Allah SWT dengan membawa uang. Kita tentu tidak akan mampu meneladani semua uswah hasanah dari makhluk termulia itu, tetapi spirit atau semangat dari teladan mulia beliau itu bisa kita ambil.

Betapa mulianya pemimpin agung yang tidak menghendaki harta dan rendah hati itu. Kesederhanaan, keramahan, kelembutan, kerendahan hati, dan kemuliaan akhlak beliau mampu menembus jarak waktu berabad abad dan sampai kepada kita. Membaca ulang kisah-kisah keteladanan beliau, kita masih akan tetap terharu dan meneteskan air mata. Tak heran kalau umat Islam merasa rindu pada beliau. Memohon ampun dari Allah SWT, sebelum terlambat, pasti akan diampuni.

Tetapi,menurut saya,kesalahan kita kepada orang lain, apalagi kesalahan pemimpin kepada rakyatnya, baik berupa kebijakan yang tidak bijak atau kebijakan yang dilandasi kepentingan pribadi atau kelompok / partai, hanya bisa diampuni oleh Allah SWT apabila yang menderita akibat kebijakan itu memaafkan, Wallahu a'lam bisshawab. Semoga kita, terutama para pemimpin, mampu meneladani, walaupun hanya sedikit, begitu banyak uswah hasanah Rasulullah.

Sebagai pribadi atau sebagai pemimpin, Rasulullah adalah tokoh yang mampu menunjukkan satunya kata dengan perbuatan. Tidak hanya pandai menyuruh, tetapi juga bisa melakukan apa yang disuruhkan itu. Sesuatu yang amat langka di Indonesia selama puluhan tahun.(*)


(sumber: http://www.seputar-indonesia.com)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah
Salah satu sifat utama Rasululah SAW yang patut diteladani kaum Muslimin, terutama oleh para pemimpin, adalah sifat rendah hati (tawadhu) yang termanifestasikan dalam kecintaannya yang luar biasa kepada orang-orang lemah, fakir miskin, anak-anak yatim, janda-janda tua, dan para hamba sahaya.

Beliau sering terlihat berkumpul bersama mereka, menghiburnya, berempati, dan memecahkan serta memberikan solusi pada setiap persoalan yang mereka hadapi. Penderitaan kamu Muslimin juga dirasakan Rasulullah sebagai penderitaannya. Firman Allah (QS 9: 128): Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri.
Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia