banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

SMNU
Batik Faroo Pekalongan
SadeanBatik.Com

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini108
mod_vvisit_counterKemaren358
mod_vvisit_counterMinggu ini1425
mod_vvisit_counterBulan ini9091
mod_vvisit_counterSemua120419
 
 
Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Thalib Alatas
Kamis, 26 Pebruari 2009
ISTIQOMAH DALAM  MENEGAKKAN SYARI’AT

Sosok Habib Ahmad, demikian masyarakat Pekalongan dan sekitarnya memanggilnya adalah figur seorang ulama yang menjadi panutan ummat Islam khususnya di kawasan pesisir utara Pulau Jawa. Pasalnya, kealiman beliau sangat terkenal dan menjadi pusat rujukan setiap problem agama khususnya yang berkaitan dengan masalah hukum Islam.
Kendati demikian, beliau tidak dapat menotolerir (memaafkan) setiap pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah atau melihat orang yang meremehkan soal agama. Walaupun beliau seorang ulama terpandang dan berkedudukan tinggi, mengajak orang berbuat baik dan mengajak meninggalkan perbuatan yang buruk dan jahat adalah merupakan ciri khas dan naluri pribadi ulama yang dikenal sangat bersahaja ini.

Lahir di Kota Hajren Yaman tahun 1255 Hijriyah atau tahun 1836 Masehi, Habib Ahmad mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya Assayyid Abdullah Bin Thalib Alatas dan Assyarifah Zaenah Binti Ahmad AlKaf dalam bidang agama. Setelah menguasai pembacaan Al Qur’an dan pengetahuan agama yang cukup, Habib Ahmad meneruskan belajarnya di tanah suci Makkah sekaligus untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Rasulullah.
Beberapa guru beliau kunjungi untuk diserap ilmunya. Diantara guru yang didatangi dan paling berpengaruh ialah Syekh Imam Assayyid Ahmad Zaini Dahlan seorang alim yang memiliki banyak murid dan santri, khususnya dari Indonesia antara lain yang pernah menjadi santrinya ialah KH. Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama.  Jika dirunut, Habib Ahmad masih ada darah keturunan dari Rasulullah Muhammad SAW yang ke 39.
 
Sebelum Habib Ahmad kembali ke tanah kelahirannya di Hajren Yaman, Habib Ahmad mendapat kepercayaan dari gurunya untuk mengajar di Makkah. Kepiawaian beliau dalam berda’wah danmengajar membuat masyarakat sekeras dan sekasar apapun menjadi lunak dan lembut. Ternyata Habib Ahmad adalah sosok figur yang pandai membaca dan menyelami keadaan masyarakat dimana beliau berkiprah.  Setelah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Makkah, kemudian Habib Ahmad berniat kembali ke tanah kelahirannya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya setalah cukup lama ditinggalkannya menuntut ilmu di negeri Makkah.
Keinginan Habib Ahmad mengunjungi Indonesia tidak dapat ditunda tunda lagi, meski sanak kerabat sangat keberatan, toh tak menyurutkan langkah untuk mengunjungi saudara-saudaranya yang tinggal di Indonesia, terutama Pekalongan. Maka berangkatlah Habib Ahmad menuju Indonesia dengan tujuan utama Pekalongan. Melihat keadaan Pekalongan yang menurutnya masih membutuhkan dukungan penyiaran agama Islam, maka tergeraklah hati beliau untuk menetap di Pekalongan.
Sejak itu, Habib Ahmad di Pekalongan melaksanakan tugas sebagai imam rawatib di Masjid Wakaf yang terletak di sebuah jalan yang kini disebut Jalan Surabaya. Berkat ketekunan dan ketelatenan beliau, lambat laun jama’ah masjid makin ramai yang mengikuti jama’ah sholat, sehingga tergerak hati beliau untuk mengajarkan berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya, antara lain membaca Al Qur’an, barzanji, wirid hingga hizib di waktu-waktu tertentu, sehingga semakin marak jama’ah Masjid Wakaf sejak kehadiran Habib Ahmad.

Ilmu Habib Ahmad memang sangat luas, namun ilmu itu bukan sekedar dikuasai dan tidak diamalkan. Selain diamalkan, Habib Ahmad tidak pernah menyombongkan ilmunya, melainkan selalu tampil dengan rendah hati, suka bergaul, jujur, sabar, istiqomah dan disiplin dalam menjalankan agama.  

Dalam amaliyah keseharian, sebagaimana yang ditulis dalam kitab “Taj Al-A’ras” karangan Habib Ali Bin Husein Alatas diceritakan, Habib Ahmad tidak pernah meninggalkan sholat tahajud setiap harinya dan didalamnya selalu membaca satu juz Al Qur’an dan satu juz lagi dibaca saat sholat dhuha. Membaca ratib yang disusun Habib Umar Bin Abdurrahman Alatas dan membaca wirid karangan habib Abdullah Al Haddad adalah pekerjaan setiap pagi dan sore Habib Ahmad.
Ketekunan beliau dalam menjalankan ibadah, keikhlasan dan kasih sayangnya kepada mereka yang lemah serta ketegasannya dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar telah membuat habib menjadi idola masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.   

Diakhir hayatnya, Habib Ahmad mengalami patah tulang pada pangkal pahanya akibat jatuh. Penderitaan ini berlanjut hingga wafatnya pada malam Ahad 24 Rajab 1347 Hijriyah atau tahun 1928 dalam usia 92 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Sapuro Kota Pekalongan.
Namun peringatan haul wafatnya diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya’ban yang dihadiri ribuan umat Islam, bahkan tidak jarang tamu dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Timur Tengah juga menyempatkan hadir setiap haul digelar. Meski secara fisik Habib Ahmad telah tiada, namun ajaran dan tauladan beliau terus diamalkan oleh ummat Islam hingga sepanjang zaman. Semoga kita mampu menauladani perilaku dan ajaran-ajarannya, khususnya dalam penegakkan ajaran syari’at Islam. [abu fiki]
 
< Sebelumnya
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah
Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang guru agama, siapapun orangnya asal bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut. 
Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia