banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

Batik Faroo Pekalongan
SadeanBatik.Com
SMNU

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini88
mod_vvisit_counterKemaren358
mod_vvisit_counterMinggu ini1405
mod_vvisit_counterBulan ini9071
mod_vvisit_counterSemua120399
 
 
NU, Kekuatan Besar yang Menghadapi Tantangan
Kamis, 26 Pebruari 2009

Jakarta, NUBatik Online
Nahdlatul Ulama saat ini sudah berusia 83 tahun sejak kelahirannya pada 31 Januari 1926. Berbagai situasi sulit telah dilaluinya dan NU telah menunjukkan kekokohannya sebagai sebuah sekuatan besar dalam menghadapi tantangan zaman.

Sekjen PBNU Endang Turmudi menuturkan, saat masih menjadi partai politik, NU secara terus menerus mampu mempertahankan eksistensinya ditengah berbagai tekanan. Dalam pemilu yang sangat demokratis pada tahun 1955, setelah keluar dari Masyumi, NU mampu menjadi kekuatan ke tiga terbesar.

Selanjutnya, dalam pemilu 1971 yang penuh tekanan dari penguasa Orde Baru, warga NU tetap menunjukkan soliditasnya mempertahankan garis perjuangan NU. “Ini berbeda dengan Masyumi pasca dibubarkannya tidak mampu mengkondolidasikan diri, meskipun ada penggantinya, yaitu Parmusi. Kekuatan mereka benar-benar buyar,” katanya.

Demikian pula, setelah adanya penyatuan partai yang menggabungkan partai-partai Islam dalam PPP, NU memiliki peran besar dalam mendulang suara untuk partai ini. Pemilu 1977, PPP memperoleh suara sebesar 29 persen.

Endang yang juga peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini berpendapat salah satu yang menjadi kekuatan NU adalah faktor budaya berupa kohesifitas para kiai sebagai patron pengikutnya.

Era reformasi yang menumbuhkan banyaknya partai baru, termasuk yang memiliki latar belakang NU menyebabkan kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh NU terpecah dalam berbagai parpol. PKB yang merupakan partai yang didirikan oleh NU terus menerus mengalami konflik internal.

“Dulu patron ini menyatu, sekarang ini sudah tidak satu lagi karena punya kepentingan berbeda sehingga sekarang tidak menyatu total secara keseluruhan, tetapi pengaruh patron ini masih ada dan bisa diandalkan,” tandasnya.

Terhadap situasi yang dihadapi saat ini, Endang berharap agar para politisi NU mengadakan self critic dan reorientasi terhadap khittah perjuangan yang dilakukan 

“Saya menjadi NU untuk apa, ini perlu mengevaluasi kembali. Karena ditengah adanya kebebasan, keinginan yang bermacam-macam, kita nilai dan luruskan sebagai tokoh NU. Kalau sudah itu, akan ketemu, oh ternyata saatnya kita perlu memperbaiki diri,” terangnya.

Upaya perbaikan secara kulturan dan struktural harus dilakukan agar mampu bertahan menghadapi tantangan zaman baru ini. Sekali lagi, kekokohan dan soliditas kekuatan politik NU ditengah berbagai konflik dan perpecahan akan diuji pada pemilu 2009 ini. (nuo/ufi)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah
Dari Anas bin Malik r.a. berkata, "Rasulullah S.A.W bersabda : Apabila seseorang dari umatku membaca ayat Kursi 12 kali, kemudian dia berwudlu dan mengerjakan sholat subuh, nescaya Allah akan menjaganya dari kejahatan syaitan dan darjatnya sama dengan orang yang membaca seluruh al-Qur'an sebanyak tiga kali, dan pada hari kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang menyinari semua penghuni dunia." Berkata Anas bin Malik, "Ya Rasulullah, apakah hendak dibaca setiap hari?"
Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia