|
Bogor, NUBatik Online Bupati Bogor, Rachmat Yasin mengemukakan, almarhum mantan Ketua DPR/MPR RI KH Idham Chalid merupakan sosok pendidik yang istiqomah dan ulama yang "tawaddu" atau rendah hati. "Kiai Idham merupakan sosok pendidik yang istiqomah. Beliau tidak hanya pandai ceramah. namun juga memberikan teladan yang baik," kata Bupati Rachmat Yasin Sabtu kemarin di Cibinong. KH Idham Chalid (88) menghembuskan nafas terakhir Minggu di Jakarta. Jenazah almarhum dimakamkan di kompleks Pesantren Darul Qur`an, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Senin. Kiai Idham merupakan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1956-1984. 28 tahun memimpin PBNU menjadikannya sebagai tokoh terlama yang menjadi nakhoda pada ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Idham juga tercatat pernah menjadi Ketua Lembaga Pendidikan PBNU tahun 1952-1956. Jabatan terakhir di NU yaitu sebagai rois Jam`iyyah Ahlit Thoriqoh al-Mu`tabaroh an-Nahdliyyah (Jatman), salah satu organisasi otonom NU yang menjadi perkumpulan thorigqot. Jabatan Rais Jatman ia emban mulai pertengahan 1980-an hingga akhir 1990-an. Selain itu Idham juga dikenal sebagai sosok negarawan dengan menduduki sejumlah jabatan strategis kenegaraan mulai akhir 1940-an hingga awal 1980-an, antara lain sebagai anggota DPR/MPR, wakil Perdana Menteri, Menko Kesra dan Menteri Sosial di zaman Bung Karno. Pada awal era Orde Baru, ia pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua DPR/MPR 1972-1977 serta ketua DPA 1978-1983. Kiai Idham juga dikenal sebagai tokoh kunci di balik fusi partai-partai Islam pada tahun 1973. Fusi tersebut ditandai dengan didirikannya PPP. Idham menjadi deklarator, ketua dan presiden PPP. Lebih lanjut Rachmat yang didaulat sebagai juru bicara mewakili keluarga almarhum saat dilakukan pemakaman, mengemukakan, sejauh yang ia ketahui, Kiai Idham selain sebagai ulama dan politisi juga sebagai pendidik yang istiqomah. Sebelum terjun ke gelanggang politik, Kiai Idham tercatat sebagai guru agama di Pesantren Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Setelah tak lagi terlibat dalam hingar bingar politik praktis kepartaian, selain kembali ke NU sebagai rumah yang telah membesarkan namanya, ia juga kembali ke pesantren dengan menjadi guru. Kiai Idham mengembangkan dua pesantren. Pertama, Pesantren Darul Ma`arif yang berlokasi di Cipete Jakarta. Berikutnya, Pesantren Darul Qur`an yang terletak di Cisarua, Kabupaten Bogor. "Kiai Idham memiliki komitmen dan kepedulian tinggi terhaap dunia pendidikan. Beliau merupakan pendidik tulen," ungkap Rachmat. Rachmat juga menyebut Kiai Idham sebagai sosok ulama yang "tawaddu" serta selalu sederhana dalam hidup. kesederhanaan pribadi Kiai Idham tercermin dari kesederhanaan dua pesantren yang ia kelola semasa hidup yaitu Pesantren Darul Maarif di Cipete Jakarta dan Pesantren Darul Qur`an di Cisarua, Kabupaten Bogor. (ant/bim)
|