|
Jakarta, NUBatik, Online Calon ketua umum terus bermunculan menjelang muktamar NU sekitar dua bulan lagi. Ketua Umum Tanfidziyah PB NU Hasyim Muzadi mengingatkan para kandidat agar menyadari besarnya tantangan yang dihadapi NU mendatang. "Jadi, jangan hanya memikirkan bagaimana mendapatkan suara sebanyak-banyaknya," kata Hasyim Muzadi di sela-sela acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung II PB NU di Jl Amir Hamzah, Matraman, Jakarta, kemarin (26/1). Sebab, menurut dia, tantangan dalam mengelola NU jauh lebih berat daripada periode-periode sebelumnya. "Harus ingat, ngurusi NU itu tidak mudah, kaitannya dunia dan akhirat," tutur ketua umum PB NU dua periode tersebut.
Setidaknya, lanjut Hasyim, ada tiga syarat untuk menjadi ketua umum PB NU. Yaitu, harus memiliki karakter dalam memimpin, memiliki kompetensi dan mengerti tentang NU, serta harus mempunyai catatan pengabdian yang cukup dalam tata operasional NU. "Itu dulu yang harus dipenuhi kalau ingin terpilih dalam muktamar nanti," tambah Hasyim. Dia menegaskan, NU mendatang tidak bisa diatur hanya dengan mengandalkan karisma. Tapi, tetap harus dipadukan dengan kemampuan manajerial. Dia mengungkapkan, selama memimpin NU dua periode, pihaknya sudah banyak menemui orang yang awalnya sangat bersemangat untuk bisa masuk dalam kepengurusan. "Meminta-minta jadi pengurus, (setelah) sudah jadi, eh nggak mau ngurusi," katanya. Muktamar Ke-32 NU dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan, 22 Maret nanti. Sejumlah calon ketua umum PB NU yang kini beredar, antara lain, Said Aqil Siradj, Ahmad Bagja, Masdar Farid Mas'udi, Salahuddin Wahid, Ali Maschan Moesa, Slamet Effendi Yusuf, dan Ulil Absar Abdalla. (jp/iz)
|