|
Jakarta, NUbatik Online Tadi malam (29/11) Siti Musdah baru saja menginjakkan kaki kembali ke tanah air. Ketua umum Indonesian Conference of Religion and Peace (ICRP) itu pulang dari Roma setelah menerima penghargaan Woman of the Year 2009. "Surprise, karena (penghargaan) ini sesuatu yang tidak pernah saya harapkan," ujar Siti Musdah kepada Jawa Pos sesaat setelah mendarat. Bagi dia penghargaan bergengsi di acara Il Premio Internazionale La Donna Dell `Anno yang diakui pemerintah Italia itu bukan untuk dirinya semata, tapi juga seluruh kaum perempuan di Indonesia. Perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1959, terpilih karena begitu intens terlibat dalam isu perjuangan kesetaraan gender dan demokrasi. Pandangannya yang kritis tak jarang menimbulkan kontraversi. "Sampai ada yang menyebut saya kafir segala lah," kata dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah itu.
Dia menyisihkan dua finalis lain, Aiche Ech Channa dari Maroko dan Mary Akrami dari Afghanistan. Ketiganya masuk babak akhir melalui seleksi ketat atas 36 calon dari 27 negara. Pantauan awalnya dilakukan terhadap aktivitas perempuan di 138 negara. Dan, acara itu sudah berlangsung delapan tahun. Menurut Musdah, juri tertarik memilih dirinya karena aktivitasnya yang terkait perjuangan gender dan juga isu-isu lain. Terutama, keterlibatannya dalam kampanye penghapusan hukuman mati. "Ini perempuan kok ikut-ikutan terlibat hal-hal seperti ini ya?" ujarnya, membayangkan pikiran para dewan juri. Dewan juri terdiri atas para pakar di bidang sains, ekonomi, politik, komunikasi, dan diplomasi. Sejak kecil, Siti Musdah yang juga dikenal sebagai teolog dan ahli hukum Islam itu dibesarkan di kalangan Islam tradisional. Dia juga telah kenyang pengalaman organisasi. Mulai Ikatan Pelajar Putri NU, Fatayat NU, hingga Muslimat. "Bisa jadi orang yang menuding saya sudah kafir itu, mikir-mikir juga kalau tahu latar belakang saya. Tiga puluh tahun saya bergelut di NU, organisasi Islam terbesar," ujarnya lantas tertawa. (jp/bim) |