banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

SMNU
Batik Faroo Pekalongan
SadeanBatik.Com

Pengunjung Online

Saat ini ada 12 tamu online

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini117
mod_vvisit_counterKemaren314
mod_vvisit_counterMinggu ini1891
mod_vvisit_counterBulan ini1169
mod_vvisit_counterSemua131757
 
 
Kurban: Belajar Beri yang Terbaik
Kamis, 26 November 2009


    Oleh Abdul Djamil

SUATU saat sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Zaid bin Arqam bertanya kepada Nabi mengenai fungsi dan manfaat kurban. Nabi menjawab bahwa kurban mengikuti sunah Ibrahim dan manfaat yang diperoleh adalah kebajikan yang dihitung dengan setiap bulu dari hewan kurban itu (Hadis Riwayat Ibn Majah).

Pertanyaan Zaid mungkin mewakili banyak orang yang ingin kejelasan akan keuntungan setelah melaksanakan kurban. Ada terbersit keengganan berkurban manakala tak ada kejelasan hasil yang diperolehnya atau mengesankan watak kikir manusia yang enggan memberi kalau tak ada imbalan.

Riwayat lain menyatakan hewan kurban  itu akan menjadi tunggangan kelak pada saat meniti ìtitian serambut dibelah tujuhî, sirat al-mustaqim.

Ketika orang lain meniti ìjembatanî dengan susah payah mereka yang berkurban mendapatkan fasilitas naik hewan kurbannya masing-masing. Percaya atau tidak, ini adalah keyakinan teologis yang bersumber dari pihak yang memiliki otoritas atau bagian dari agama yang memberi berita gembira bagi yang menjalankan ketaatan pada Allah.

Betapa kurban ini menjadi ibadah yang sangat dianjurkan (sunnah mu’akkad) sehingga Nabi memperingatkan untuk tidak boleh dekat-dekat dengan mushalanya bagi mereka yang memiliki kesanggupan kurban tetapi tak melaksanakannya.

“Ancaman” Nabi ini tentu bukan gertak sambal bagi mereka yang kikir yang tak mau terkurangi hartanya secuilpun untuk diberikan pada orang lain. Dengan kata lain seolah-olah Nabi tak ingin bertemu dengan orang yang menari-nari kegirangan dengan rezeki pemberian Allah dan masa bodoh dengan anjuran agama serta kondisi sosial di sekelilingnya.

Adalah hak setiap orang untuk menikmati rezeki hasil jerih payahnya sendiri, pakai mobil senilai miliaran, membangun rumah supermewah, setiap tahun berlibur ke Eropa atau Hong Kong, berpakaian serbaeksklusif yang dirancang khusus dan seterusnya. Pada sisi lain ada pula hak orang miskin untuk mendapat santunan dari harta orang kaya itu sehingga wajar kalau Nabi amat geregetan melihat orang kaya yang kikir tak mau berkurban.

Mereka harus ingat bahwa suatu saat hartanya tak akan berarti apa-apa ketika stroke menyergap secara tiba-tiba, diabetes menahun tak sembuh-sembuh, asam urat yang membuatnya terpincang-pincang jika berjalan dan saat tersengal-sengal menghadapi sakaratul maut.


Bau Kambing

Seperti tahun-tahun sebelumnya di setiap lokasi strategis selalu dijumpai ìpasar kambing tibanî  menjelang Idul Adha dan masyarakat segera memaklumi meski bau kambing dan kotorannya mengusik kenyamanan orang yang lalu lalang di dekatnya.

Ya harap maklum persaingan dagang hewan kurban semakin ketat sehingga orang tak perlu susah payah pergi ke desa mencari hewan terbaik untuk kurban. Dari segi usia, kambing minimal harus mencapai satu tahun (mussinah) dan dari segi kualitasnya tak boleh sakit atau cacat. Bagi yang ikhlas mau berkurban, carilah kambing yang terbaik, gemuk, usianya cukup meski harganya lebih mahal.

Di sinilah semangat kurban adalah merelakan harta berharga untuk diberikan kepada orang lain dengan penuh keikhlasan karena Allah semata. Sebuah ujian loyalitas kepada Allah dan nabinya apakah mau mengurbankan harta miliknya dengan ukuran minimal seekor kambing  yang telah mencapai usia setahun atau unta yang mencapai usia lima tahun.

Nah kurban sekaligus juga merupakan pemberian terbaik dalam kerangka ketaatan kepada Tuhan mengikuti peristiwa monumental saat Ibrahim memberikan pengorbanan terbesarnya yakni putra tercinta Ismail alaihissalam. Bahwa kurban itu akhirnya digantikan dengan seekor domba itu adalah persoalan lain di luar ketaatan dan kesediaan mengorbankan harta milik yang paling berharga sekalipun.

Amat sulit untuk mengetahui asal usul budaya pemberian barang bekas menjadi tindakan kedermawanan dan sering diberitakan lebih nyaring ketimbang pemberian terbaik seperti semangat kurban. Pejabat abangan itu berbinar-binar membaca reportase dirinya sedang memberikan pakaian pantas pakai kepada korban bencana dan masyarakat pun berebut untuk mendapatkannya.

Sebuah pemandangan yang mencerminkan kamuflase pemberian barang bekas dibilang pantas pakai. Pemberian terjelek dibilang tindakan kedermawanan dan membuang sial dibilang amal kebajikan. Mengapa tiba-tiba reasoning orang-orang kikir ini menjadi gaya hidup dan diikuti banyak orang.

Orang-orang miskin itu diberi santunan bukan semata-mata karena menengadahkan tangan berbekal air mata kepedihan tetapi meminta haknya yang dititipkan kepada orang kaya. Maka Alquran memerintahkan untuk mengambil hak orang miskin yang ada pada orang kaya itu bukan merengek-rengek kepada orang kaya dan mereka memberikan dengan penuh kesombongannya. 

Dalam berkurban ada pengendalian ego untuk berpikir dan bertindak demi orang banyak, demi masa depan dan demi kepentingan yang lebih jauh yang belum tentu dinikmatinya sendiri. Orang dididik untuk berorientasi kepada tujuan akhir yang lebih baik meski harus memerlukan pengorbanan  seperti orang main catur yang bisa saja mengorbankan bidak-bidak kecil sebagai strategi mencapai tujuan akhir yang lebih esensial.

Pada sisi lain arah kebudayaan cenderung bersifat instan pragmatis karena segi-segi hidup memberikan conditioning  ke arah itu, makanan serbainstan tinggal dituang air panas siap santap, tinggal pencet HP atau facebook bisa bertemu relasi yang berada di  jarak yang jauh, tinggal ke mal semua kebutuhan terpenuhi, tinggal pencet telepon maka buking tiket bisa terlayani.

Manusia menjadi serbacepat dan serbapragmatis terbiasa pada orientasi yang bersifat kekinian dan kedisinian. Kalaupun mengeluarkan uang dia harus memperoleh jawaban apa yang diperolehnya hari ini dan di sini. Kalau diingatkan surga dan neraka katanya itu urusan nanti, Belanda masih jauh, jangan mikir akhirat dulu.

Pada saat kemiskinan negeri ini mencapai angka 35 juta (BPS 2008) dan tiap 100 penduduk ada 15 orang miskin, pengangguran terbuka mencapai 9,26 % atau 8,14 % dari total angkatan kerja dan daya beli masyarakat menurun serta  banyak orang kehilangan pekerjaan lantaran kondisi ekonomi mengalami pelambatan, berkurban merupakan kewajiban moral dan sosial. Ini demi menolong dan meringankan beban sesama yang sedang menanggung beratnya beban hidup.

Jika ada situasi seperti ini maka tak usah bicara dalil normatif karena sudah tidak mempan, yang diperlukan adalah dalil sosiologis bahwa ada banyak orang yang tidak beruntung di negeri ini di tengah-tengah orang lain yang memperoleh sejuta kemudahan dan kesejahteraan.

Ada orang pingsan dan bahkan meninggal karena berdesakan untuk mendapatkan daging kurban dan ada jutaan orang yang tergusur dari persaingan. Mereka ini adalah pekerja keras tetapi tak memperoleh peluang dan kesempatan, mereka bersedia kerja siang dan malam tetapi struktur sosial menjadikan mereka memang hanya sebagai pelengkap penderitaan.

Jika ada kesadaran sosial meringankan beban saudara sebangsa dan se-Tanah Air maka bisakah memberikan sesuatu yang terbaik sebagaimana tercermin dalam ibadah kurban yang esok akan kita rayakan bersama.

Wallahuaílam bissawab. 

— Prof Dr Abdul Djamil MA, Guru Besar Filsafat Islam IAIN Walisongo

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah
''Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa'' (QS Al-Hujurat: 49)

Betapa banyak pribadi yang besar dalam sejarah tetapi yang berjiwa besar sungguh sangat langka. Pribadi tersebut mampu mengalahkan diri sendiri dan mengesampingkan egonya demi kepentingan umat yang jauh lebih besar.
Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia