|
Pekalongan, NUBatik Online Sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ternyata tidak menjadi jaminan bersatunya pemikiran untuk dalam menyelesaikan masalah-masalah besar, sehingga yang terjadi adalah NU selalu tertinggal dengan ormas lain meski mereka lebih kecil dari kita. Demikian dikatakan H. Ahmad Rofiq Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan dihadapan Fayatat dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dalam acara halal bi halal di Gedung PCNU setempat baru-baru ini. Dikatakan, hampir bisa dipastikan antara badan otonom yang dimiliki oleh NU, masing-masing memiliki anggota yang cukup banyak, akan tetapi mengapa tidak bisa kompak, masing-masing berjalan sendiri-sendiri dan sangat sulit untuk bersatu dalam kebersamaan.
Menurut Rofiq, jika NU dan Badan Otonomnya masih seperti sekarang ini, yakni berjalan sendiri-sendiri, dikawatirkan berbagai persoalan ke depan yang tengah menghadang kita, akan semakin sulit diselesaikan. Meski sebagai badan otonom, Muslimat, Fayatat, GP Ansor, IPNU dan IPPNU harus tunduk dan taat kepada Nahdlatul Ulama, karena mereka dibentuk untuk melakukan pengkaderan dan pembinaan sesuai spesifikasi usia dan pengelompokannya. Akan tetapi pada prakteknya banyak yang menafsirkan berbeda, otonom diartikan mandiri tanpa adanya campur tangan dari siapapun termasuk Nahdlatul Ulama, ujar Rofiq. Dalam Pilkada misalnya, yang satu mendukung calon A, akan tetapi yang lainnya mendukung calon B. Padahal jika keduanya bersatu untuk mendukung satu calon tentunya dapat menjadi satu kekuatan yang utuh. Akan tetapi hal ini sangat sulit direalisasikan, karena berbagai faktor kepentingan, tandas Ahmad Rofiq. (iz)
|