|
oleh : KH. Musthofa Bakri Bulan Ramadan kesibukan masjid dan musala mengalami peningkatan kegiatan yang luar biasa. Jika di hari-hari biasa, sehabis salat Isya’ suasana masjid dan mushala nyaris sepi tak ada kegiatan. Jangankan kegiatan membaca Alquran, jamaah salat Isya’ bisa hampir dipastikan satu shaf depan saja tidak penuh. Akan tetapi di bulan Ramadan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, hampir dapat dipastikan jumlah jamaah dan volume kegiatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. mengapa? di samping Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan dalam Alquran, barangsiapa yang menjalankan amal ibadah di bulan Ramadan, akan dilipatgandakan pahala ibadahnya yang nilainya terserah Allah sendiri. Baik itu untuk amalan ibadah mahdlah (yang sudah ditentukan) seperti salat tarawih, witir, tahajud, puasa dan sejenisnya maupun amalan ibadah ghairu mahdlah (selain yang tidak ditentukan) seperti sadaqah, berbuat baik, hingga memberi makan anak yatim.
Kegiatan masjid dan musala menjadi semakin ramai menjelang sepuluh terakhir di bulan Ramadan, meski jamaah yang mengikuti tarawih mulai berkurang, akan tetapi hamba-hamba Allah rela tidak tidur dan menahan kantuk untuk menantikan sesuatu yang sangat diidam-idamkan. Tidak hanya tarawih dan tadarus Alquran, bahkan pada malam-malam ganjil yakni tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadan aktivitas ditambah dengan iktikaf (berdiam diri dalam masjid), salat tasbih dan lain-lain. Pada tengah malam di atas jam 00.00 para pengurus takmir membuka pintu dan pagar masjid musala lebar-lebar dan mengumumkan melalui pengeras suara membangunkan ummat untuk salat tasbih, tahajud, hajat, dan sholat sunat lainnya dengan satu tujuan sama, yakni sama sama ingin meraih ”Lailatul Qadar”. Siapa pun ummat Islam di dunia ini tak ingin melewatkan dan ingin meraih Lailatul Qadar. Betapa tidak, malam yang yang sangat istimewa sebagaimana disebutkan dalam Alquran adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu 83 tahun lebih 4 bulan (Lailatul qadri khairun min alfi syahr). Seumpama sehari orang salat fardlu 17 rakaat, maka selama seribu bulan pahalanya identik dengan sholat 510.000 rakaat. Padahal rata-rata usia ummat Muhammad berkisar 60 tahun. Kalau sehari melaksanakan salat fardlu 17 rakaat, maka dalam usia 60 tahun hanya mampu melaksanakan 367.200 rakaat. Maka betapa besar kemuliaan yang dijanjikan Allah pada Lailatul Qadar. Pertanyaannya, kapan sebenarnya malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu? Dalam Alquran Allah bertanya, tahukah kamu, apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu? Kemudiaan Allah menjawab pada ayat berikut (Lailatul qodri khoirun min alfi syahr). Allah tampaknya sengaja merahasiakan kapan hari ”H” Lailatul Qadar agar manusia berpikir. Karena kerahasiaan Allah itu sampai sekarang berkembang kontraversi atau polemik tentang "malam seribu bulan". Ada yang berpendapat, hari ”H” sengaja dirahasiakan Allah agar ummat Islam menghidupkan Ramadan sejak awal hingga akhir. Andaikan para kiai dan ulama sepakat Lailatul Qadar pada malam 27 Ramadan misalnya, mungkin ummat Islam di dunia pilih beribadah habis habisan pada malam itu saja. Malam-malam ramadan yang lain bisa diabaikan. Ada juga yang menerjemahkan ”salamun hiya hatta mathlail fajr” (malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar) tidak hanya sampai terbitnya matahari, tetapi panjang sampai hitungan yang tidak terbatas. Walhasil kontraversi itu semakin panjang untuk didiskusikan. Bahkan mungkin kalau dibahtsulmasailkan (membahas masalah masalah agama) tidak akan ada habis-habisnya. Ummat Islam yang meyakini Lailatul Qadar berada di malam likuran atau malam ganjil di atas tanggal 20 Ramadan mungkin dilandasi oleh sebuah hadits: ”taharru Lailatal Qadri fil witri awakhiri min syahri ramadan” (carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil sepertiga yang terakhir dari bulan Ramadan. Jadi, tidak perlu disalahkan kalau kemudian para kiai, ulama dan muballigh di masjid dan musholla mengekploitasi hadits tersebut secara besar-besaran. Dampaknya tentu pada malam likuran semangat beribadah terasa bertambah seperti mendapat energi baru di tengah-tengah kelesuan menjalankan amalan-amalan di bulan Ramadan. Untuk mengetahui kapan hari ”H” Lailatul Qadar, Imam Asy-Sya’roni memberi pedoman dengan melihat awal Ramadan jatuh pada hari apa. Kalau awal Ramadan jatuh pada hari Jum'at atau Selasa, berarti Lailatul Qadar jatuh pada malam 27 Ramadan. Kalau awal Ramadan jatuh pada hari Ahad atau Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 Ramadan. Jika awal Ramadan hari Kamis, maka lailatul Qadar jatuh pada malam 25 Ramadan. Kalau awalnya hari Sabtu jatuh pada malam 23 Ramadan, dan jika awal Ramadan pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21 Ramadan. Imam Asy-Sya’roni juga memberikan tanda-tanda, yaitu pada malam itu cuaca dalam keadaan terang benderang dan cerah, tidak ada hujan dan bintang di langit menampakkan sinarnya, angin semilir, dan tidak panas. Pagi harinya matahari terbit tidak langsung memancarkan sinar panas tetapi agak redup dan tidak mendung. Ada kaidah lain yang disampaikan untuk menandai Lailatul Qadar versi Imam As-Sya’roni yaitu sesudah tanggal 15 Ramadan cari malam Jum'at yang tanggalnya ganjil itulah malam Lailatul Qadar. Ramadan kali ini di atas tanggal 15 Ramadan ada tanggal ganjil di malam Jumat (Kamis malam) coba dilihat penanggalan, jika merujuk pedoman Imam Asy-Sya’roni berarti Lailatul Qadar jatuh pada malam Jum'at 21 Ramadan. Akan tetapi saya tidak ingin terlibat dalam polemik atau kontraversi kapan sebenarnya hari ”H” Lailatul Qadar. Pada prinsipnya saya setuju kalau ada yang berpendapat malam kemuliaan itu sejak awal Ramadan hingga akhir Ramadan. Yang penting gelora semangat untuk beribadah terpompa tidak hanya di bulan suci Ramadan, akan tetapi juga 11 bulan lain di luar bulan suci itu. Insya Allah kalau sejak awal Ramadan kita sudah membiasakan qiyamul lail, salat tasbih, tahajud, hajat, tawarih dan lain-lain kita akan mendapat berkah Lailatul Qadar, amin ya rabbal alamin. KH Musthofa Bakri Rais Syuriyah PCNU Kota Pekalongan Tinggal di Pekalongan |