banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

SMNU
SadeanBatik.Com
Batik Faroo Pekalongan

Pengunjung Online

Saat ini ada 9 tamu online

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini142
mod_vvisit_counterKemaren314
mod_vvisit_counterMinggu ini1916
mod_vvisit_counterBulan ini1194
mod_vvisit_counterSemua131781
 
 
Kolom
Ranjau-Ranjau Takwa PDF 
Rabu, 11 Agustus 2010

oleh : A. Mustofa Bisri

SEBAGAI hamba Allah SWT yang telah berikrar "Tiada Tuhan selain Allah", sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa?

Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita. Karena Allah SWT Mahakaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Dia mulia bukan karena dimuliakan; agung bukan karena diagungkan; berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula Dia sudah Mahamulia, sudah Mahaagung, sudah Mahakaya, dan sudah Maha Berwibawa.

Kalau kemudian Dia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Dia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.

Selengkapnya...
 
NU dan Garasinya PDF 
Kamis, 25 Maret 2010

Oleh: Dr. KH A. Mustofa Bisri

Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.

Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.

Selengkapnya...
 
NU dan Perpolitikannya PDF 
Rabu, 17 Maret 2010
Oleh: A. Mustofa Bisri

NAHDLATUL Ulama, seperti diketahui, merupakan jam'iyah atau organisasi yang didirikan para kiai pesantren. Mengapa Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Para Kiai, dan bukan Nahdlatul Umat? Sebab, tujuan semula organisasi ini memang untuk mempersatukan para kiai.

Hadlratussyeikh dalam salah satu risalah beliau menyatakan antara lain: "Innal ghaayah allatii tarmii ilaihaa al-Jam'iyyah hiya tauhiidu shufuufi l ulamaa' warabthihim biraabithatin waahidah..." ("Tujuan jam'iyah ialah mempersatukan barisan para kiai dan menghimpun mereka dalam satu ikatan"). Sudah maklum bahwa kiai -terutama di zaman dulu- memiliki santri dan umat pengikut. Jadi, apabila para kiai "bangkit", otomatis para santri dan umumnya umat pengikut mereka akan ikut "bangkit". Para kiai merasa merekalah yang paling bertanggung jawab menciptakan kemaslahatan umat.

Boleh jadi, karena kiai-kiai pesantren yang mendirikannya, struktur organisasi mereka ini pun disesuaikan dengan ''struktur'' pesantren. Di pesantren, kiailah pemimpin tertinggi pengambil kebijaksanaan yang mengendalikan dan mengarahkan. Sementara, untuk urusan-urusan pelaksanaan kebijaksanaan sehari-hari, lurah pondok atau pengurus pesantren yang menanganinya. Lalu dari sinilah muncul struktur istimewa khas NU: Syuriah sebagai pihak pengambil kebijaksanaan, pengarah, dan pengendali organisasi dan Tanfidziyah sebagai pelaksana harian. Maka, ada ungkapan, "NU adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil."
Selengkapnya...
 
Magnet Silaturahmi Gus Dur PDF 
Rabu, 13 Januari 2010

oleh : Mahfud MD

Saya sudah lupa hari dan tanggalnya, tetapi waktu itu adalah awal tahun 2001, saat saya menjabat sebagai menteri pertahanan di bawah kepresidenan Gus Dur.

Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Hanafi Asnan, menelepon saya. “Pak Mahfud, saya mendapat berkah, seperti kejatuhan bulan dan bintang,” kata Hanafi. “Ada apa, Pak,” tanya saya. “Presiden tiba-tiba minta mampir ke rumah Ibu saya di Madura,” jawab Hanafi. Orang mampir ke rumah orang tentulah hal biasa. Namun peristiwa itu menjadi surprise bagi Hanafi karena yang akan mampir ke rumah ibunya adalah Presiden. Padahal Gus Dur tak pernah kenal dengan ibunda Hanafi kecuali bahwa Hanafi adalah bawahannya yang berasal dari Madura.

Apalagi rencana mampir itu diberitahukan kepada Hanafi hanya dua hari sebelum keberangkatan Gus Dur ke Madura. Saat itu Presiden Gus Dur dijadwalkan kunjungan kerja ke Madura bersama Menteri Kehutanan Marzuki Usman untuk acara menanam seribu pohon dalam program penghutanan. Ketika rencana keberangkatan dilaporkan dan dimatangkan, tiba-tiba Presiden meminta diselipkan acara mampir ke rumah Hanafi Asnan di Socah, Bangkalan.

Selengkapnya...
 
Fenomena Gus Dur PDF 
Rabu, 13 Januari 2010

Ketika masih hidup Gus Dur membuat banyak heboh baik dalam pemikiran keagamaan, pemikiran kebudayaan hingga maneuver-manuver politik akrobatiknya yang menimbulkan berbagai kontroversi. Demikian ketika Gus Dur meninggal kehebohan juga terjadi, ribuan pelayat sejak dari rakyat jelata hingga petinggi Negara menghormatinya. Masyarakat berjajar memenuhi jalan baik di Jakarta, maupun sepanjang jalan antara Surabaya Jombang yang berdiri menghormati tokoh pujaannya.

Tidak hanya kalangan Muslim yang khidmat menyelenggarakan tahlilan selama tujuh malam, kalangan Kristen, Hindu Budha dan Konghucu juga menyelenggarakan doa yang sama, mereka merasa kehilangan tokoh besar sang pelindung yang menjadi panutan. Hal itu menjadi dramatis ketika seluruh media masa baik cetak maupun elektronik yang menyiarkan secara langsung, sehingga presesi pemakaman itu mereka ikuti secara seksama.

Selengkapnya...
 
<< Awal < Prev 1 2 3 Next > Akhir >>

Hasil 1 - 9 dari 26
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah

Rasulullah SAW bersabda: "Akan tiba suatu zaman di mana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram." (HR Bukhari).

Empat belas abad lebih, setelah Rasulullah menyatakan hadis ini, kini kita sedang menyaksikan sebuah kenyataan di mana orang sangat berani melakukan korupsi, penipuan, perampokan, perjudian, dan sebagainya, banyak orang yang menjadi korban karenanya.

Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia