|
|
Kolom
|
Magnet Silaturahmi Gus Dur |
PDF
|
|
Rabu, 13 Januari 2010 |
|
oleh : Mahfud MD Saya sudah lupa hari dan tanggalnya, tetapi waktu itu adalah awal tahun 2001, saat saya menjabat sebagai menteri pertahanan di bawah kepresidenan Gus Dur. Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Hanafi Asnan, menelepon saya. “Pak Mahfud, saya mendapat berkah, seperti kejatuhan bulan dan bintang,” kata Hanafi. “Ada apa, Pak,” tanya saya. “Presiden tiba-tiba minta mampir ke rumah Ibu saya di Madura,” jawab Hanafi. Orang mampir ke rumah orang tentulah hal biasa. Namun peristiwa itu menjadi surprise bagi Hanafi karena yang akan mampir ke rumah ibunya adalah Presiden. Padahal Gus Dur tak pernah kenal dengan ibunda Hanafi kecuali bahwa Hanafi adalah bawahannya yang berasal dari Madura. Apalagi rencana mampir itu diberitahukan kepada Hanafi hanya dua hari sebelum keberangkatan Gus Dur ke Madura. Saat itu Presiden Gus Dur dijadwalkan kunjungan kerja ke Madura bersama Menteri Kehutanan Marzuki Usman untuk acara menanam seribu pohon dalam program penghutanan. Ketika rencana keberangkatan dilaporkan dan dimatangkan, tiba-tiba Presiden meminta diselipkan acara mampir ke rumah Hanafi Asnan di Socah, Bangkalan. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Rabu, 13 Januari 2010 |
|
Ketika masih hidup Gus Dur membuat banyak heboh baik dalam pemikiran keagamaan, pemikiran kebudayaan hingga maneuver-manuver politik akrobatiknya yang menimbulkan berbagai kontroversi. Demikian ketika Gus Dur meninggal kehebohan juga terjadi, ribuan pelayat sejak dari rakyat jelata hingga petinggi Negara menghormatinya. Masyarakat berjajar memenuhi jalan baik di Jakarta, maupun sepanjang jalan antara Surabaya Jombang yang berdiri menghormati tokoh pujaannya. Tidak hanya kalangan Muslim yang khidmat menyelenggarakan tahlilan selama tujuh malam, kalangan Kristen, Hindu Budha dan Konghucu juga menyelenggarakan doa yang sama, mereka merasa kehilangan tokoh besar sang pelindung yang menjadi panutan. Hal itu menjadi dramatis ketika seluruh media masa baik cetak maupun elektronik yang menyiarkan secara langsung, sehingga presesi pemakaman itu mereka ikuti secara seksama. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Selamat Jalan ''Ayatullah Demokrasi'' |
PDF
|
|
Sabtu, 02 Januari 2010 |
|
Oleh: Abdul Wahid SEWAKTU masih hidup, Cak Nur (cendekiawan Nurcholish Madjid) pernah mengungkapkan bahwa Gus Dur di kemudian hari akan menjadi jembatan yang membuat demokrasi berjalan lebih cepat. Sekat-sekat yang menjadi pagar dan menghambat mengalirnya demokrasi akan terbuka lewat peran Gus Dur yang tak kenal patah semangat dalam ''menjual'' demokrasi kepada semua elemen bangsa itu. Prediksi Cak Nur tersebut ketika Orde Baru masih berjaya menghegemoni negeri ini. Ramalan itu tak lepas dari peran-peran Gus Dur yang tidak mengenal takut dalam melawan arus negara atau gaya berpolitik Soeharto yang berparadigma eksklusif dan monolitik. Meski sering dihambat dan dijegal oleh rezim Soeharto, bahkan nyaris dibuat kalah dalam pertarungan memperebutkan kursi ketua PB NU oleh Abu Hasan yang notabene ''pesanan'' yang dijual negara untuk mencabik-cabik NU, Gus Dur tetap garang dalam memperjuangkan demokrasi. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Kurban: Belajar Beri yang Terbaik |
PDF
|
|
Kamis, 26 November 2009 |
|
Oleh Abdul Djamil
SUATU saat sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Zaid bin Arqam bertanya kepada Nabi mengenai fungsi dan manfaat kurban. Nabi menjawab bahwa kurban mengikuti sunah Ibrahim dan manfaat yang diperoleh adalah kebajikan yang dihitung dengan setiap bulu dari hewan kurban itu (Hadis Riwayat Ibn Majah). Pertanyaan Zaid mungkin mewakili banyak orang yang ingin kejelasan akan keuntungan setelah melaksanakan kurban. Ada terbersit keengganan berkurban manakala tak ada kejelasan hasil yang diperolehnya atau mengesankan watak kikir manusia yang enggan memberi kalau tak ada imbalan. Riwayat lain menyatakan hewan kurban itu akan menjadi tunggangan kelak pada saat meniti ìtitian serambut dibelah tujuhî, sirat al-mustaqim. Ketika orang lain meniti ìjembatanî dengan susah payah mereka yang berkurban mendapatkan fasilitas naik hewan kurbannya masing-masing. Percaya atau tidak, ini adalah keyakinan teologis yang bersumber dari pihak yang memiliki otoritas atau bagian dari agama yang memberi berita gembira bagi yang menjalankan ketaatan pada Allah. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Meraih Lailatul Qodar |
PDF
|
|
Rabu, 09 September 2009 |
|
oleh : KH. Musthofa Bakri Bulan Ramadan kesibukan masjid dan musala mengalami peningkatan kegiatan yang luar biasa. Jika di hari-hari biasa, sehabis salat Isya’ suasana masjid dan mushala nyaris sepi tak ada kegiatan. Jangankan kegiatan membaca Alquran, jamaah salat Isya’ bisa hampir dipastikan satu shaf depan saja tidak penuh. Akan tetapi di bulan Ramadan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, hampir dapat dipastikan jumlah jamaah dan volume kegiatan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. mengapa? di samping Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan dalam Alquran, barangsiapa yang menjalankan amal ibadah di bulan Ramadan, akan dilipatgandakan pahala ibadahnya yang nilainya terserah Allah sendiri. Baik itu untuk amalan ibadah mahdlah (yang sudah ditentukan) seperti salat tarawih, witir, tahajud, puasa dan sejenisnya maupun amalan ibadah ghairu mahdlah (selain yang tidak ditentukan) seperti sadaqah, berbuat baik, hingga memberi makan anak yatim. |
|
Selengkapnya...
|
|
| | << Awal < Prev 1 2 3 Next > Akhir >>
| | Hasil 1 - 9 dari 23 | |
|
|
|
|
|
| |
|
Tanggal Sekarang |
Jumat 12 Maret 2010 26 Rabiul Awal 1431 H |
|
Mutiara Hikmah |
|
Islam mengatur adab bertetangga, agar hubungan sesama tetangga menyenangkan dan membahagiakan. Menurut hadis Rasulullah SAW riwayat At-Thabrani, setiap orang mempunyai hak dari tetangganya. Pertama, mendapat pelayatan (bezuk) bila dia sakit. Kedua, bila dia mati diselenggarakan jenazahnya. Ketiga, kemiskinannya dirahasiakan. Keempat, menerima ucapan menyenangkan (rasa sukacita) bila mendapat keberuntungan. Kelima, mendapat perhatian dan ditakziahi bila dia ditimpa musibah. Keenam, tetangganya tidak boleh meninggikan bangunan di samping bangunannya yang membuat terhalangnya angin. Ketujuh, menerima pemberian masakan lezat yang baunya menusuk hidung. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
|