banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

Batik Faroo Pekalongan
SMNU
SadeanBatik.Com

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini3
mod_vvisit_counterKemaren200
mod_vvisit_counterMinggu ini638
mod_vvisit_counterBulan ini2145
mod_vvisit_counterSemua78038
 
 
Manaqib
Bapak Guru Bangsa Itu Bernama Gus Dur
Jumat, 01 Januari 2010

Perjalanan Karir Gus Dur

Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.

Selengkapnya...
 
KH. A. Wahab Chasbullah, Sang Inspirator Brillian
Selasa, 21 Juli 2009

Pengantar

KH. Wahab Chasbullah lahir pada bulan Maret 1888 M. dari pasangan Kyai Chasbullah dan Nyai Lathifah di Tambakberas Jombang. Keluarga Chasbullah, pengasuh pondok Tambakberas ini masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan KH. Hasyim Asy'ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dengan KH. Abdussalam. Sejak kecil beliau dididik secara langsung oleh ayahnya. Beliau diajari pendidikan agama, seperti membaca al-Qur'an, tasawuf, dan sebagainya.

Setelah dipandang cukup, KH. Wahab berkelana ke berbagai pesantren untuk berguru, di antaranya di Pesantren Langitan-Tuban, Pesantren Mojosari-Nganjuk di bawah bimbingan Kyai Sholeh, Pesantren Tawangsari-Surabaya, dan Pesantren Bangkalan-Madura di bawah bimbingan langsung Kyai Kholil yang masyhur itu.

Oleh Kyai Kholil, Kyai Wahab disuruh berguru di Pesantren Tebuireng. Di berbagai pesantren inilah KH. Wahab menimba pengetahuan dan pengalaman. Beliau mempelajari kitab-kitab penting keagamaan sampai mahir. Pada usia 27 tahun KH. Wahab meneruskan pendidikannya ke Makkah. Di kota suci itu beliau berguru kepada ulama terkenal diantaranya KH. Machfudz Termas, KH. Muhtarom Banyumas, Syekh Ahmad Chotib Minangkabau, KH. Bakir Yogyakarta, KH. Asya'ri Bawean, Syekh Said al-Yamani dan Syekh Umar Bajened. Semua itu menambah lengkapnya wawasan sosial dan pengetahuan keagamaan KH. Wahab. Melihat riwayat pendidikannya, tidak heran jika di kalangan ulama dan para pejuang sebayanya, KH. Wahab tampak paling menonjol di segi wawasan pemikiran dan pengetahuannya.

Selengkapnya...
 
KH. Wahid Hasyim
Kamis, 07 Mei 2009

 

 

 

Pembaharu Dunia Pesantren


Pengantar :
KH. Abdul Wahid Hasyim salah seorang putra pendiri Nahdlatul Ulama merupakan pengasuh kedua Pesantren Tebuireng; memimpin Tebuireng selama tiga tahun (1947 – 1950). Salah seorang anggota BPUPKI dan perumus Pancasila ini, merupakan reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam Indonesia pada umumnya. Pahlawan nasional ini juga dikenal sebagai pendiri IAIN (sekarang UIN) dan merupakan Menteri Agama tiga kabinet (Kabinet Hatta, Kabinet Natsir, dan Kabinet Sukiman).

Kelahiran dan Masa Kecilnya
Pagi itu, Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M., dari dalam bilik rumah sederhana milik pasangan KH. M. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah, terdengar tangisan bayi memecah suasana pagi. Para santri yang saat itu sedang mengaji, langsung tanggap bahwa itu adalah suara putra Kiai Hasyim yang baru lahir. Sang ibu yang sudah lama menanti kehadiran bayi laki-laki, sangat gembira dengan kelahirannya.

Kiai Hasyim memberinya nama Muhammad Asy’ari, diambil dari nama kakeknya. Akan tetapi nama itu agaknya kurang sesuai baginya. Namanya kemudian diganti dengan Abdul Wahid, diambil dari nama datuknya. Abdul Wahid adalah putera kelima pasangan Kiai Hasyim-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun). Dia anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara.

Selengkapnya...
 
KH. Ghufron Achid
Senin, 30 Maret 2009
AL MAGHFURLAH KH GHUFRON ACHID
PENDIDIK DAN ULAMA YANG SABAR

 


Pengantar :
KH. Ghufron Achid adalah sederetan nama ulama Kota Pekalongan yang pernah menghiasi dan mewarnai khasanah organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama di Kota Pekalongan yang telah meninggalkan banyak kenangan. Tidak saja di kalangan dunia pendidikan salaf, akan tetapi juga dalam kiprahnya menata organisasi peninggalan Hadratus Syech KH. Mohammad Hasyim Asy’ari sehingga Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan tetap eksis seperti sekarang.

Berikut ini adalah tulisan singkat sengaja redaksi hadirkan bukan untuk mengkultus-individukan beliau, tetapi untuk mengenang kesholehan beliau, mengenang perilaku baik beliau, pengabdian beliau untuk Allah SWT, dan masyarakat, perjuangan beliau yang kadang – kadang harus menentang arus, menerjang ombak, tantangan dan rintangan yang tidak ringan. Rasulullah SAW bersabda : “ Sebutkan kebaikan Orang – Orang yang telah mati dari kamu, dan berhentilah mencela keburukan – keburukan mereka “

Selengkapnya...
 
Mengenal lebih dekat dengan pendiri Nahdlatul Ulama
Selasa, 03 Maret 2009
 
Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
( Pendiri Nahdlatul Ulama ) 
Pengantar redaksi
Telah banyak tulisan mengenai Hadratus Syech KH. Hasyim Asy’ari sang arsitek Nahdlatul Ulama. Dan telah banyak pula dibaca oleh masyarakat nahdliyyin khususnya. Akan tetapi juga masih banyak yang belum tahu apa dan siapa KH. Hasyim Asy’ari. Tulisan dibawah ini yang dikutip dari berbagai sumber, kiranya dapat mengobati rasa penasaran yang selama ini menggelayut di hati. Selamat membaca.

Kelahiran pendiri NU

Sebelum lahir, tanda-tanda khoriqul ‘addah telah tampak pada jabang bayi Hadratus Syekh. Beliau berada dalam kandungan sang ibu selama 14 bulan. Masyarakat Jawa kala itu memiliki keyakinan bahwa masa kandungan yang panjang mengindikasikan kecemerlangan sang bayi di masa depan. Sang ibu lebih yakin akan isyarat ini, karena dirinya pernah bermimpi melihat bulan purnama jatuh dari langit tepat menngenai perutnya yang sedang mengandung.
Selengkapnya...
 
 
 
Tanggal Sekarang
Kamis
11 Maret 2010
25 Rabiul Awal 1431 H
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah

Birrul Walidain atau berbuat baik kepada orang tua termasuk ajaran Islam yang penting. Berbuat baik kepada mereka merupakan amal yang utama dalam pandangan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW pernah ditanya seorang sahabat tentang amal yang paling dicintai Allah. Beliau bersabda, ''Shalat tepat pada waktunya!'' Sahabat itu bertanya lagi, ''Apalagi amal yang dicintai Allah, ya Rasulullah?'' ''Berbuat baik kepada orang tua,'' jawab beliau. Sahabat itu bertanya kembali, ''Kemudian amal apa lagi, ya Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Berjihad pada jalan Allah.'' (HR Bukhari)

Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by Hisyam Basyeban