banner
Show/Hide Toggle

Login Kontributor






Kata Sandi hilang?

Langganan

RSS nubatik.net

Iklan

SMNU
Batik Faroo Pekalongan
SadeanBatik.Com

Pengunjung Online

Saat ini ada 8 tamu online

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini117
mod_vvisit_counterKemaren314
mod_vvisit_counterMinggu ini1891
mod_vvisit_counterBulan ini1169
mod_vvisit_counterSemua131757
 
 
Tokoh
H. Abu Almafachir, SH Ingin Membangun Kota Pekalongan Sebagai Kota Religius
Sabtu, 15 Mei 2010

 

Sejak dipercaya menjadi Wakil Walikota Pekalongan mendampingi dr H Basyir Ahmad tahun 2005 - 2010, H. Abu Almafachir memiliki segudang rencana, bagaimana Kota Pekalongan yang dikenal dengan kota santrinya, tidak hanya batiknya yang moncer hingga manca negara. Akan tetapi juga ingin makam Habib Ahmad asal Hadramaut Yaman di Komplek Pemakaman Sapuro menjadi wisata religi, kegiatan rutin maulid nabi di Kanzus Sholawat yang terus menerus diadakan hingga di puluhan tempat ibadah seperti masjid Kauman, Masjid Raudloh dan Masjid Aulia dapat menjadi salah satu potret sebagai kota religius.

Namun, Ia menyadari karena hanya berposisi sebagai Wakil Walikota, segala gagasan dan keinginan sulit terwujud jika Walikota sendiri tdak memiliki ide dan pemikiran yang sama untuk menjadikan Kota Pekalongan sebagai kota yang religius. Maka setumpuk gagasan dan ide serta keinginannya hanya terpendam dalam pikirannya hingga masa akhir jabatannya pada bulan Juli mendatang. 

Meskipun demikian, berbagai gagasan yang sebagian telah terealisir sebagaimana ditulis dalam buku "Hidup Bagai Aliran Air" yang mengisahkan perjalanan hidup H. Abu Almafachir, tercatat bahwa wisata ziarah, wisata hutan kota dan wisata sejarah dan budaya kini telah dapat dinikmati masyarakat Kota Pekalongan maupun masyarakat luar Kota Pekalongan.

Selengkapnya...
 
DR. KH. Said Agil Siraj Ketua Umum PBNU Periode 2010 - 2015
Rabu, 31 Maret 2010

  

Menjadi Muslim Moderat Tak Mudah

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, mengatakan, kezaliman terhadap umat Islam di dunia sudah sangat serius. Hal itu terjadi karena untuk bersifat moderat nampaknya merupakan hal yang sulit.

“Ada dua kezaliman di hadapan umat Islam. Pertama kezaliman politik internasional melalui wajah Dewan Keamanan PBB dan kedua, kezaliman Moneter dengan mata Uang dollar sebagai kolateralnya,” katanya saat acara penutupan Rakernas I Majelis Alumni IPNU di Hotel Millenium, Jakarta, Senin (1/2).

Menurutnya, kezaliman politik salah satunya, disebabkan keberadaan Dewan Keamanan PBB. Keputusan yang telah dirumuskan bersama negara-negara anggota PBB kerap lenyap seketika ketika satu dari lima anggota DK PBB mem-veto.

Selengkapnya...
 
K.H. Hasyim Muzadi
Kamis, 29 Oktober 2009

Mengabdi Di NU Bukan Demi Kekuasaan

Kyai kelahiran Tuban, 8 Agustus 1944, ini terpilih kembali untuk periode kedua (2004-2009) sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Mantan Calon Wakil Presiden berpasangan dengan Capres Megawati Soekarnoputri (PDI-P) ini berhasil mengungguli secara mutlak para pesaingnya, termasuk KH Abdurrahman Wahid.

Dalam Muktamar NU ke 31 di Donohudan, Boyolali, Jateng, (28/11-2/12/2004), pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pencalonan dan tahap pemilihan. Calon Rais Aam dan Ketua Umum dianggap sah apabila mendapat dukungan minimal 99 suara dari 465 suara.

Peserta muktamar mengajukan enam nama untuk jabatan ketua umum PB NU periode 2004-2009. Dalam pemungutan suara tahap pencalonan, KH Hasyim Muzadi memperoleh 293 suara, KH Masdar F Mas'udi 103 suara, KH Mustofa Bisri (35) Abdul Azis (4), sedangkan Gus Dur dan Tholchah Hasan hanya memperoleh 1 suara. Sehingga dilakukan tahap pemilihan antara KH Hasyim Muzadi 293 suara, KH Masdar F Mas'udi 103. Pada tahap ini KH Hasyim Muzadi mutlak mengungguli KH Masdar F Mas'udi dengan perbandingan suara 334 dan 99.
 

Selengkapnya...
 
Bercermin Dalam Kehidupan "Sang Kiai Seniman"
Selasa, 21 Juli 2009

 

Sample Image

 

KH A. Mustofa Bisri menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Sebagaimana disebut dalam sambutan dekan Fakultas Adab, gelar ini adalah penghargaan atas jasa-jasa Gus Mus dalam mengembangkan ilmu kebudayaan Islam lewat kerja-kerja nyata. Karya-karyanya dinilai menyuarakan Islam yang menyejukkan, Islam yang mengentaskan, Islam yang mengayomi, Islam yang membebaskan, dan Islam yang mencerahkan.

Setiap orang yang mengenal Gus Mus, baik secara langsung maupun hanya melalui karya-karyanya, akan sepakat dengan pendapat di atas. Bahkan, seperti yang diutarakan Emha Ainun Nadjib, gelar itu terlalu kecil untuk memberi harga bagi jasa-jasa Gus Mus yang sedemikian besar, tidak hanya bagi umat Islam tapi juga bagi bangsa Indonesia.

Selengkapnya...
 
KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi
Kamis, 16 April 2009

MENYATUKAN UMMAT LEWAT THARIQAH

Beliau masih muda. Namun, Surabaya dan Jawa Timur bahkan seluruh Jawa hingga Jakarta dan Asia Tenggara seperti dalam genggaman pengaruhnya, itulah KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi putra keenam KH. Utsman asal Kedinding Lor Surabaya Jawa Timur.

Minggu pagi akhir bulan Pebruari tahun 2006 lalu kawasan Lapangan Mataram Kota Pekalongan yang biasanya ramai oleh masyarakat yang ingin berolah raga ringan, berbelanja dan sekedar jalan jalan untuk menikmati udara pagi, hari itu tampak lain dari hari-hari minggu sebelumnya. Puluhan keamanan sejak subuh disibukkan oleh kehadiran puluhan ribu masyarakat berbaju putih putih dari berbagai penjuru kota di Jawa untuk mengatur arus lalu lintas. Saking padatnya, Jalan Wilis dan Sriwijaya merupakan jalur utama jurusan Semarang Jakarta harus ditutup total selama 24 jam dan disulap menjadi area parkir kendaraan roda dua dan empat atau lebih. Bahkan malam sebelumnya puluhan rombongan bis bis pariwisata dan reguler serta ratusan kendaraan pribadi sudah memasuki wilayah Kota Pekalongan yang terkenal dengan industri batiknya menuju satu titik, yakni Lapangan Mataram. Ada apa gerangan ?

Selengkapnya...
 
<< Awal < Prev 1 2 Next > Akhir >>

Hasil 1 - 5 dari 7
 
 
Tokoh
Kader Kita
Berita Organisasi
Kolom
Galeri Foto


















Mutiara Hikmah

Suatu waktu, Khalifah Umar bin Khattab kedatangan tamu dari negeri Himsy, salah satu wilayah kekuasaan Islam. Khalifah Umar dengan ramah tamah menghormati tamu-tamunya. Selang beberapa saat, Khalifah Umar mengadakan temu wicara dengan mereka. Ia banyak bertanya tentang kondisi rakyatnya di sana, baik pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraannya.

Seusai dialog, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh para tamunya itu untuk mencatat dan melaporkan rakyatnya yang kurang mampu. Ketika membaca laporan tersebut, Khalifah Umar tiba-tiba terlihat kaget saat melihat nama Sa'id bin 'Amir tercantum dalam daftar orang miskin.

Selengkapnya...
 
Copyright 2010 All Right Reserved
www.NUbatik.net - PCNU Kota Pekalongan
Web Design and Maintenance by ExpanMedia